Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas

PUISI GUNAWAN MARYANTO

leave a comment »

Parasurama

 

apakah kau akan berhenti

jika setiap langkahmu ditumbuhi sepi

atau mengayuhkan kapakmu

sebab malam tak lagi pernah sama

setelah kematian renuka?

 

malam telah mengutukmu

menjadi pembunuh ibu

atau batu di dasar kali

dan tak ada janji kembali

 

apalagi yang ada setelah kematian renuka

: malam panjang tanpa mimpi sedetik juga

 

sementara kematian menjauh

tak mau menyentuhmu

karena bagiku

kaulah kematian itu

 

Jogja, 2014

 

 

 

Renuka

 

tak ada yang tejanjang di bengawan narmada

hanya cinta yang berjatuhan di batu-batu kali

hanya dada yang sejenak terbuka

lalu cepat tertutup kembali

tak ada apa-apa. tak ada yang pernah kutinggalkan

aku di sini dan sebegini saja, yamadagni

 

tak ada yang telanjang di bengawan narmada

hanya darahku yang mengalir di kapakmu, rama

deras seperti cinta yang tak pernah kudaku

 

maka telanjanglah, menarilah di kaki candiku

sebab cinta tak datang sembarang waktu

sebab ada masanya kau hanya selembar daun

—gemetar ditampar hujan

 

Jogja, 2014

 

 

 

 

Yamadagni

 

apa yang pergi tak bakal kembali

apa yang telah kaubunuh mokal tumbuh

: kepala itu telah jatuh

—menggelinding ke ruang tak tersentuh

 

katakan padaku,

mantra macam apa yang bisa menguasai malam

menutup seluruh jalan dendam dan kematian

yang kadung tumbuh di ujung wadung

 

kupinjam seluruh tubuhmu, rama

sebab kau tak akan mati

sebagaimana dendam yang kumiliki

 

Jogja, 2014

 

 

 

Golekan

 

wayang di sebelah sudah selesai

kayon di selesaikan di tengah azan

mungkin kau sudah bangun

dan pelan-pelan menyadari

bayangmu telah lari pergi

tak ada rajah

yang perlu dibaca lagi

 

sementara dua boneka kayu

—sepasang kekasih kaku

manari diburu waktu

 

Jogja, 2014

 

 

Anjani

 

telaga sumala meredam lukamu

menjatuhkan kama berbau perdu

tepat pukul lima pagi yang beku

 

buka saja mulutmu

seperti saat kau memanggilku

bukalah dan lahirkan sesuatu

 

mungkin sebuah puisi

tentang kera betina yang menyendiri

di sebuah telaga hingga ia melahirkan puisi

tentang kera betina yang menyendiri

 

waktu mesti kaubunuh

hingga bulu-bulu di wajahmu gugur

menjelma kera putih

yang akan membopongmu

ke sebuah tempat

yang pernah kaulihat

di cupu astagina

 

atau biarkan saja

telaga sumala

menelanmu

dan kau tak pernah ada

 

Jogja, 2014

 

 

 

Supraba

 

di mana letak kematianmu

di sanalah aku akan berdiam

menunggu datangnya malam

saat aku mesti kembali

menjadi cahaya

 

waktumu tak lebih panjang dari rambutku

ruanganmu tak lebih luas dari tubuhku

bergegaslah. di luar terlalu gaduh

 

aku ingin segera menepi ke sana

di dalam kematianmu yang dingin

dan sebutlah kita pengantin

 

Jogja, 2014

 

 

 

Sumbrada

 

kularung cintamu!

jadilah perempuan itu berlari

menghujamkan diri

pada sepi yang tegak berdiri

layaknya sebuah belati

lalu sungai menerima tubuh

—tongkat kosong rapuh

membawanya pergi jauh

sejauh-jauhnya darimu

 

dan kalaupun kini ia hidup kembali

duduk diam di sebuah tempat

menyaksikanmu yang terus menari

dengan baju pengantin hingga tamat

: ia bukan siapa-siapa

 

Jogja, 2014

 

 

 

Windradi

 

sebut aku batu

sebab kau tahu

tak ada lagi suaraku

tak kubagi cintaku

bahkan kepadamu

 

dalam diam kuhayati

apa yang tak pernah mati

berdiri antara luar-dalam

siang dan malam

akan kusaksikan

semua menua dan sia-sia

 

dan kau yang berendam

di telaga sumala

selembar daun akan jatuh

tepat di mulutmu

sesuatu akan tumbuh

menjadi setapak jalanku

mencair. membahasimu

 

Jogja, 2014

 

 

 

Alap-alap Surtikanti

 

suatu kali aku pernah bersembunyi di gelung rambutmu

berdiamlah di sana, katamu, rumahkan kesepianmu

dan bau lehermu menidurkanku. menjaga kesedihan

yang berkeliaran sepanjang tembok tamansari

tinggallah di sana, katamu, selesaikan pelarianmu

tapi tubuhmu bukan makamku. tak ada namaku di sana

 

aku hanya pencuri yang mesti terus berlari

 

Jogja, 2014

 

 

 

Gojali Suta

 

di batas yang tak lagi jelas

siapakah kamu

yang menyeru namaku

siapakah aku

yang menyusun ranjang besi

dari puisi-puisi tak jadi

 

maka kupecahkan wajahmu

dan tidurkanlah aku

di ranjang yang sepi

agar selesai seluruh cinta

agar selesai perseteruan

yang panjang ini

 

Jogja, 2014

 

 

 

Sambang Juwing

 

ceritakan padaku malam ini

cinta yang tak pernah mati

dan kau pun berhenti

menulis ulam derma – ulam dermi

di sebidang tanah yang sepi

di mana sepasang kekasih

baru saja mati siang tadi

koyak-moyak di tanganmu

yang berkeliaran rindu

 

mereka tak ada katamu

mereka tak tinggal di sni

hanya ada aku dan kamu

dan sebidang tanah sepi

 

dan aku pun memelukmu

tubuh yang tak bisa kukenal

sebab malam begitu rapuh

dan bisa jatuh kapan saja

 

Jogja, 2014

 

 

 

Gunawan Maryanto aktif di Teater Garasi, Yogyakarta. Buku puisinya antara lain The Queen of Pantura (2013).

Written by puisi kompas

Januari 18, 2015 at 6:22 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DADANG ARI MURTONO

with 3 comments

ketika maling caruling memaling

 

pada upaya yang kesekian

ia seperti mendengar nyai itu berkata

segala yang gagal membuatmu menyerah

akan menjadikanmu lebih tabah

 

pada upaya yang kesekian

gerit jendela seret tak beroli ituhanya senyap

ia seakan melihat asmara

menyungkupkan jarit gelap tak berbatik

dan ia tahu

tak bakal ada jerit

sampai esok

sewaktu si demang menyadari dadanya berlubang

dan jantungnya tinggal kantung yang begitu luang

 

 

 

pengakuan nyi demang

(untuk ken andhisti sekali lagi)

 

hatiku kupu-kupu, caluring

dan segala padamu

songkroh penyebrak

atau tongkat berperekat sawang laba-laba kuning

 

telah kau maling, celuring, hatiku

sejak hari pertama kita bertukar kerling

dan di kamar si demang

tubuhku tinggal kepompong kosong

bakal penyebab demam si demang

 

lalu bersama atau tidak, caluring

dalam cinta yang begini

apalah lagi artinya

 

 

 

cak markeso

 

aku penyair bimbang, cak

bimbing aku

aku tak kuat berjalan dengan memanggul

perut lapar, dalam tasku, kata-kata

tak ada yang abadi

maka tunjukkan cak, duniamu itu,

semesta ludruk ontang-antingmu itu, kaki yang tak

lelah menghela langkah, dan bagaimana

apa yang kuucap di depan tukang becak penggemar

atau pinggir kali dengan sedikit pendengar

terus terngiang hingga kini, tak

lungkrah-lungkrah, tak payah-payah

 

aku pencinta bimbang, cak

bimbing aku

 

perempuan-perempuan datang datang

dan pergi meninggalkan bahasa

yang sementara, bahasa yang terlalu

sering diulang orang hingga cepat usang

maka ajari aku bagaimana cara menemukan

supartiku, seperti kau menemukan supartimu

setelah dua kisah cinta murungmu yang

selalu berumur setahun

 

aku tualang bimbang, cak

bimbing aku

 

tidak ada puisi dalam khazanah

masa kecilku, seperti tak ada parikan

dalam keluarga besarmu

tapi kau temukan jula-julimu sendiri, hei

putra kiai, dan kau tempuh pikiranmu sendiri

dan bertahan kau di sana, berdiri gagah

sebagai tualang sejati dalam ludruk garingan

 

lalu kacamata riben itu, cak

apakah sekedar penutup mata julingmu

ataukah kau jadikan tameng

agar suatu bagian dari dirimu

tidak dimasuki apa-apa yang mengajakmu menyerah?

 

 

 

DADANG ARI MURTONO lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Tengah. Puisinya antara lain termuat dalam antologi Pasar yang Terjadi pada Malam Hari (2008).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 11 Januari 2015

Written by puisi kompas

Januari 13, 2015 at 7:41 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

with 2 comments

Dendam Absalom

-Nyanyian kepada Daud

 

Engkau adalah masa lalu tak selesai

yang harus dibereskan. Yang tumbuh

dan melahap hidupku hingga sumsum.

Bertumbuh kau seperti tumor

menjalar dan mematikan

sebagai kanibal.

 

Aku harus membunuhmu, Ayah,

kendati kuhormati dan kucintai engkau.

Sangat. Karena ampunanmu sebatas jarak

sedangkan hadirku tak lagi kau anggap.

Sedekat pandang kau tempatkan aku

untuk berjumpa tak boleh – agar rinduku

sebatas bisul tanpa mata.

 

Kepadamu seorang tertakik luka

paling perih. Tertanam akar

paling pahit. Engkaulah siksaku, awan pekat

halangi mataku tuk menatap wajah Allah.

 

Malam ini harus kubunuh engkau

Sementara kubayangkan diriku bocah kecil

dalam dekapanmu. Sementara kusesali diriku,

sumber segala dosa. Tapi kenapa kau harus

beristri banyak? Mengapa padaku ampun

kauberi untuk kau abaikan hanya?

 

Namaku Absalom: Bapa perdamaian.

Keindahan dari semua yang elok.

(Kau sendiri yang menamai, bukan?)

Namaku Absalom. Tapi damai tak lagi padaku.

 

September, 2014

 

 

 

Ratapan Daud

-Kematian Absalom

 

Akhirnya pergi jugam kau. Tanpa berpamit.

Tanpa restu kecuali kesumat. Karena kau

kupanggil pulang untuk tak kuampuni.

 

Betapa sakit dan sepi.

Betapa malam-malam penuh hantu,

penuh mimpi berduri, anakku.

 

Barangkali tanpa setahuku,

sering kau terbangun tengah malam

berpeluh lalu berteriak ngeri.

 

Dulu kau akan memanggilku

dan kuusap kepalamu

sementara kau dekap pinggangku erat.

 

Akulah hantu itu bagimu.

Betapa perih diremehkan

dan dianggap tiada ayah sendiri.

 

Lebih daripada tak diampuni sekalian.

Jiwamu tergantung antara ampunanku

dan rindumu berjumpa.

 

Ada tapi tiada. Pernah kau titip isyarat

mendekatkan diri sebelum akhirnya

pahit hatimu, bertahun kuabaikan.

 

Akulah hantu bagimu.

Engkau yang terindah dari semua,

tapi engkau tiada. Terhilang.

 

September, 2014

 

 

 

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Kini tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 11 Januari 2015

Written by puisi kompas

Januari 13, 2015 at 7:12 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI INGGIT PUTRIA MARGA

with one comment

Sesaat Sebelum Pergi

 

usai mengucapkan beberapa kalimat padaku

ia ajak aku ke batang jati yang tepekur tak jauh dari tempat kami berdiri

di dahan terendah dan terkokoh ia ikatkan tali, melingkarkan ke leher

seperti memakai sehelai kalung emas yang tak pernah mampu ia beli

 

aku tak mengerti apa yang terjadi, yang kutahu saat itu

merah fajar yang mengenang di langit telah abu-abu

merah fajar yang kerap menitik di sudut bibir ibuku yang batu

merah fajar yang mengalir di tubuhku seketika mendebu

 

anak, tubuh fajar yang terbelit tali malam telah terlepas

di depan rumah yang bukan rumah kita, tubuh merah itu tergelepar; membesar

lalu bangkit. ada seperti sepasang sayap menyeruak dari bagian tubuhnya

yang entah apa namanya. ia pun terbang, begitu tinggi, seperti harapanku

pada kehidupan saat tangis pertamamu kudengar di suatu pagi

 

di gerbang cakrawala ia berhenti, semacam berharap aku tau kamu

menyusulnya ke kerajaan tuhan, yang mungkin tak sesempurna dalam mimpi

lama ia mengambang di sana, tubuh merahnya makin nyala

bagai warna darah pertama yang keluar dari kakimu, saat tajam batu-batu

adalah kenyataan pertama yang mesti kau temui, di langkah pertamamu

di atas bumi

 

bias merah tubuh sang fajar membuat laut awan cemar, bintang pudar

bulan sabit samar. seluruh tali malam terbakar, tapi ruang pagi

rapat tertutup layar. di atas ubun-ubun kita segalanya merah, segala darah

mengapa kau memelukku? jangan takut pada darah, jangan pernah takut

sebab bila aku hilang, kau masih dapat terus hidup dan memiliki darah di tubuhmu.

tapi jangan darahmu hilang, tak ada hidup dan tak ada aku untukmu

 

berdirilah di sampingku, namun jangan genggam tangaku

 

lihat tubuh fajar yang perlahan lumer dan menggenang di langit, darah hari

yang sesaat lagi kering oleh satu makhluk yang disebut matahari

bila fajar yang menggenangi langit itu telah pergi, lihat fajar yang lain

yang kerap menitik di sudut bibirku, darah dari mulut istri yang setiap malam

terhantam tangan satu makhluk yang disebut suami

lalu andai fajar yang menitik di sudut bibirku pun pergi

ingat fajar lain pula dalam tubuhmu

 

miliaran keping darah yang tak henti mengalir

tempat cintaku padamu tiap hari terlahir

 

jauh di atas kepalaku, bagai kelopak teratai hampir mekar

matahari sedikit berpijar. di sekeliling kakiku, embun di rumput-rumput teki

bersinar.

 

2014

 

 

 

Selain Empat Burung Gereja

 

persetubuhan rel dan roda kereta melahirkan sekaligus mengusir debu-debu

angin sore pertengahan tahun mencampur mereka dengan udara

menyesakkan paru-paru siapa saja, namun gagal mengusik

ia yang duduk di beranda, melihat empat burung gereja hinggap

di setumpuk pecahan bata. seperti tata kota di tanjungkarang

begitulah bata-bata itu tersusun

tumpang tindih: satu menumpang, yang lain menindih

 

empat burung gereja hingga di posisi berbeda

 

yang pertama di tumpukan tertinggi, kepala menoleh ke sana ke mari

kaki sesekali bergerak ke kanan ke kiri. sepertinya, ia jenis burung gereja

yang kurang punya ketetapan hati. agak jauh, di sebelah kanan burung yang

labil ini, burung kedua mengambil posisi, kepala lebih sering menunduk,

kepada kaki, paruh kadang mematuk. tampaknya, ada sejumlah perjalanan

yang sungguh terkutuk

 

yang ketiga dan keempat, hingga di pecahan bata yang paling dekat

dengan bentala. mereka berhadapan, mengangguk-anggukkan kepala

beradu ricau tanpa jeda. entah bertengkar entah bertukar cerita, keduanya

mengingatkanku pada aku dan anakku. sengit pertengkaran atau

riuh percakapan: tanda kami sedang jumpa: jiwa raga

 

hari kini warna kopi. empat burung gereja pergi meninggalkan tahi

di setumpuk rekahan bata. bagai rel yang diam menunggu cumbu roda kereta

lelaki itu tetap duduk di beranda. ia lihat dua lelaki berseragam dan berpentungan

melintas, menoleh sejenak padanya sambil tetap berjalan entah kemana.

sepasang suami istri menggotong kasur, malam ini entah di mana mereka tidur

satu per satu rumah di tepi rel jadi puing. tempat tinggal bagi kenangan, kini

barangkali hanya di darah, cuma di daging

 

di sela tidur panjangku

di bawah rengkahan bata yang tertumpuk

di depan rumah tua itu

selalu kusempatkan waktu untuk melihatnya, sekadar memastikan bahwa anakku

(setidaknya sebelum rumah kami pun berlalu) baik-baik saja

 

2014

 

 

Inggit Putria Marga lahir dan menetap di Bandar Lampung. Buku puisinya bertajuk Penyeret Babi (2010).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 OKTOBER 2014

Written by puisi kompas

Oktober 14, 2014 at 10:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI HASAN ASPAHANI

with 4 comments

Aku Si Dungu

SIAPA sembunyi pada jejak sendiri

Siapa lari dari kejaran kehendakan

Akulah ini si dungu tak berjawaban

Penunggu yang Baik

TUBUHKU peti mati bagi jiwa hidupku

Aku hanya menunggu mautku sendiri.

Aku penunggu yang baik. Dan amat sabar.

Dari Mana Aku Menyapa

AKU mencintai peti matiku: ini tubuhku sendiri

Halo, aku menyapa semua kalian, dari peti matiku

Sekilas tentang Nasib

NASIB kita lembar tak berhalaman, Kawan!

Lepas dari eksemplar liar, kitab orang lapar.

Bait Suara Muara

JIWA singaiku surut pasang

Kuala keruh hidup

Dendam keombakan

Mau mempertemukan:

hujan rampaian

dan lumpur endapan

 

Di Kaki Gunung Lakon

: dahlan

TINGGAL sebentar waktu

menunjuk pucuk gerbang

pura cemara sepasang

Awan seakan-akan masih enggan

jauh menjauh dari lingkar puncakan

 

Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, 9 Maret 1971. Buku kumpulan puisinya antara lain Mahna Hauri (2012).

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 OKTOBER 2014

Written by puisi kompas

Oktober 14, 2014 at 10:06 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDY TRI RIYADI

leave a comment »

Ninabobo

 

1/

Tidurlah, Lautku,

jenak ombak teduh badai

dengung angin setelah rinai.

 

Aku camar pencari ketam,

ingin terbang dari sarang ke lautan,

menyuruk ke tubuh gelombang.

 

2/

Tidurlah, Lautku,

jadi latu hilang bara

hitam arang tanpa nyala.

 

Aku jejak terik di pucuk waru

ingin berteduh pada bayangan,

O, betapa memabukkan cahaya!

 

3/

Jika kau tertidur, Lautku

mimpimu hanyut perahu

jala yang dibiarkan mengembang

dan menjaring ikan-ikan.

 

Jika kau tertidur, Lautku

malamku kalut kulit gaharu

dahan yang menguar heharuman

dan menahan sarang balam.

 

Kita tak saling mengenal,

bahkan tak akan mengekalkan.

 

4/

Pada suatu masa,

kau dan aku sama merasa

: bagian dari semesta.

 

Maka, malam ini,

kita mencari makna jauh

ke dalam diri.

 

Mengasingkan yang akan kita cari,

dan yang telah kita sangka

sebagai lagu menjelang bermimpi.

 

2014

 

 

 

Lagu Pantai

 

Irikah lidah ombak

pada lentik embun

di daun waru?

 

Bahagiakah

ketam yang basah

di ceruk karang?

 

Di pantai ini, kerinduan harum pasir.

Di pantai ini, kebekuan gagal berdesir.

 

Sebuah pulau terpencil memanggil.

Elang laut mengepak hal-hal yang mustahil

dimengerti awan jauh.

 

Di cakrawala, cinta seperti rona senja

yang mampir. Sebentar lagi gelap, katamu.

Dan aku menurut pada rentang dekap dermaga.

 

Di mana perahu dan jukung seolah kanak yang manja.

 

2014

 

 

 

Embun

 

Akulah embun, jeritnya

memekik di atas daun.

 

Pada pagi buta, dia menuntun

ke ujung lamun.

 

Bukankah, kau, cahaya?

Yang disembunyikan mata

 

dan disentuhkan ke telapak ini.

Sejak pagi menjadi dalam diri.

 

Akulah embun, jeritnya

seperti menolak ditenun

 

waktu. Aku setuju.

Sebab nanti, di siang hari,

ada yang mesti pergi.

Atau kembali?

 

2014

 

 

 

Falseto

 

Pergilah, Tuan, karena pergi

adalah cara terbaik untuk kembali.

 

Jangan dengarkan kata-kata dan

bahasa cinta yang berguguran.

 

Tapi lihatlah dataran yang murung

dan langit yang selalu mendung.

 

Perhatikan juga tunas-tunas hitam

dari pengharapan yang tak lekang.

 

Mereka yang tumbuh seolah tak

ingin lurus, tak ingin berjarak.

 

Merapatkan diri seperti makna

yang menjaga kata-kata kita.

 

Meratapkan mimpi-mimpi sepanjang

lagu dari pikiran kita tentang

 

bagaimana seharusnya cinta diungkapkan

dan ditangkupkan dalam suara yang sopan.

 

Dan kerinduan adalah cara paling halus

untuk membentang jarak dengan tulus.

 

Karena itu, pergilah Tuan, pergilah!

Jangan lagi dengarkan aku yang resah

 

dan membuncahkan kata-kata seperti

bunyi yang keluar dari gramafon tua ini.

 

2014

 

 

 

Membaca Buku di Perpustakaan

 

Seperti menguliti apel dengan pisau,

sebuah buku kau buka dengan risau

 

“Bukan makan malam mewah, jika kau tak

sediakan pisau, garpu, dan sendok perak,”

gerutumu pada sebuah halaman persembahan.

 

Barangkali, aku harus angkat topi,

pada semua tindakmu yang begitu hati-hati.

 

“Ah, ini sekedar perayaan sebelum pergi.

Jubah panjang musim dingin tak lagi

pantas kukenakan saat tidur,” celotehmu.

 

Seperti mereka musim di mana apel itu jatuh,

pada halaman berikutnya, jemarimu terasa rapuh.

 

Saat itu aku mengira: perpustakaan adalah

sebuah kafe mewah untuk lapar yang begitu sederhana.

 

2014

 

 

 

Mencintaimu

 

Mencintaimu adalah berpikir bagaimana mendirikan

sebuah tongkat kayu yang berat. Dan bila aku memandang

persis di tengahnya, dunia seolah terbelah dua. Kiri dan

kanan. Baik dan buruk. Masa lalu dan masa depan.

 

Mencintaimu adalah memandang ke depan. Melihat langit

dengan awan menyisih, di bagian atas, dan juga melihat

jalan berbatu, di bagian bawah. Memandang apa yang

sebenarnya hanya dugaan dan perkiraan. Meskipun

tongkat kayu itu seolah telunjuk yang mantap menuju engkau.

 

Mencintaimu juga berarti membicarakan bunga dan tunas.

Sekaligus. Bunga, betapa merah dan berduri, kadang

tampak pongah dengan selubung yang hijau. Sedangkan

Tunas, pucat dan ingin segera masuk dalam ruang berwarna

seperti otak. Dua gambaran yang begitu abstrak namun semarak.

 

Mencintaimu, sebenarnya lebih menyoal aku. Menyoal cara

berdiriku yang agak miring, menyoal warna kulitku,

menyoal di sisi mana aku berdiri di depan tongkat kayu

yang berat itu. Tongkat yang serat kayunya seolah tengah

dipelintir waktu.

 

2014

 

 

DEDY TRI RIYADI adalah seorang pekerja iklan. Ia tinggal di Jakarta dan bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 10 AGUSTUS 2014

Written by puisi kompas

Agustus 12, 2014 at 1:56 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

leave a comment »

Mengunjungi Museum

 

1.

Ada remaja abadi yang tidak kaukenal dalam diriku.

Selalu, di museum yang sama, ia seperti patung

belum dirampungkan pahat. Ia tak mampu

membedakan antara menghadapi lukisan dan berdiri

di puncak tebing. Ia menjatahkan diri ke semesta

benda-benda di bingkai ketika belum jadi bangkai

atau hantu.

 

Tempat tidur dan segala yang tertanggal di atasnya

masih pepohonan. Bekas luka dan kesendirian

perempuan itu masih kuda muda liar dan

senyuman. Dan lain-lain yang hanya terlihat jika

kausentuh. Waktu, umpama, sebelum terkutuk jadi

kalender atau jam dinding yang ketagihan

mengulang hidup dan tidak menyelesaikannya.

 

Dunia lama selalu baru terjadi di hadapannya. Ia

menjauhkan diri dari segala yang ada di luar pintu

museum. Ia merasa terjebak di antara doa dan

ciuman pertama. Jika ia menganggap lukisan

sebagai keindahan, semesta itu memudar. Ia tidak

ingin aman dan tercatat sebagai penghuni masa

lampau terlalu cepat.

 

Ia dan seorang gadis di sekolahnya pernah saling

jatuh mencintai. Semua pria dewasa, termasuk guru,

hanya orang bodoh di depan gadis itu. Ia ingin gadis

itu tumbuh lebih nyata dari kecantikannya. Ia ingin

menjadi sihir dan gadis itu percaya pada keajaiban.

 

2.

Ia ingin sihir tampak nyata dari lukisan atau

lebih hidup dari seluruh yang sibuk di luar museum.

Tapi ia tak ingin cinta jadi tangga yang mengangkat

merendahkan diri sendiri.

 

3.

Ia setuju, dan ia tak setuju. Ia melihat gadis itu tak

mampu menerima hidupnya sendiri sebagai

kesibukan yang lumrah dan boleh ditunda. Ia

mengejar dirinya sebagai karir, mengubah

kecantikannya jadi jam kerja.

 

Di museum, ia ingin mengembalikan bekas luka di

punggung perempuan itu jadi senyuman. Ia ingin

meniupkan apapun yang mampu mengubah ranjang,

selimut, dan pakaian perempuan itu jadi serat-serat

pohon. Ia ingin menjadi penyair atau, setidaknya,

kembali jadi seorang yang belum pernah bercita-cita

mengenal kuas dan warna. Ia ingin jadi pencuri

takdir sendiri, pulang ke sekolah yang tidak kenal

ujian dan acara penamatan.

 

4.

“Setiap orang adalah lukisan, jika tak membiarkan

diri terperangkap bingkai,” kata pelayan toko buku

itu pada hari terakhir bekerja, hari terakhir sebelum

jadi hantu lain di pikiran remaja abadi dalam diriku.

 

 

 

Menyaksikan Pagi dari Beranda

 

Langit menjatuhkan banyak kata sifat. Tidak satu pun

ingin kutangkap dan kuingat. Kubiarkan

mereka bermain seperti anak-anak kecil sebelum

mengenal sekolah. Mereka menyentuh pepohonan

dan membuatnya berwarna-warni. Mereka

memanjat dinding dan jendela bercahaya. Mereka

mencelupkan jemari di kopi dan mimpiku meluap

jadi mata air di halaman.

 

Orang-orang melintas membawa kendaraan.

Mereka menyalakan radio dan tidak mendengarkan

apa-apa. Mereka pergi ke kantor tanpa membawa

kata kerja. Mereka tergesa, tapi berharap tidak tiba

tepat waktu.

 

Jalanan keruh sekali setelah pukul tujuh pagi. Satu-

satunya jalan keluar adalah masuk. Tutup pintu.

Biarkan jalanan tumbuh dengan hal-hal palsu.

 

Aku ingin mandi dan tidur siang berlama-lama. Aku

mencintai kemalasanku dan ingin melakukannya

selalu. Pada malam hari, aku ingin bangun dan

mengenang orang-orang yang hilang.

 

Sudah tanggal berapa sekarang?

 

 

 

Mengamati Lampu Jalan

-Kepada Eka Wulandari

 

Mereka lebih teratur daripada hukum. Mereka lebih

kuat daripada perasaan orang-orang kota. Mereka

setia dan tidak pernah memilih kepada siapa mereka

ingin tersenyum. Mereka tidak ingin terlalu terang

agar kau tidak malu pada kelelahanmu pulang kerja

– atau demi menyembunyikan ciuman entah siapa.

 

Lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang itu

mencintai lampu jalan di depan rumahmu. Lampu

jalan memiliki kekasihnya masing-masing –

sebagaimana hati manusia.

 

Lampu jalan depan rumahmu mati – dan bukan

hanya dirimu yang sedih. Lampu jalan di dekat

pohon yang baru ditebang itu seperti ingin menelan

cahayanya sendiri.

 

Jika kesedihan lampu jalan itu sampai menyentuh

lampu jalan yang lain, mereka akan sepakat berhenti

menyala. Jalan-jalan kota gelap. Lampu-lampu yang

lain – lampu di kamarmu dan di kamarku – juga

merasakan kesedihannya dan ikut memadamkan

diri. Kota-kota akan gelap dan bahkan kejahatan

takut keluar rumah.

 

Bulan dan matahari akan ikut memejamkan cahaya.

Kau tak pernah tahu berapa orang yang mati.

 

Tapi lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang

itu merahasiakan perasaannya. Ia tetap

menunggumu di sana dengan cahaya yang sama.

Kau seperti biasa berjalan pulang kerja

melewatinya, juga melewati lampu jalan depan

rumahmu yang mati, sambil berpikir betapa

berbahayanya kesedihan.

 

 

Menyimak Musk di Kafe

 

Tidak ada yang istimewa dari kafe itu. Minumannya

biasa-biasa saja. Lampu-lampunya terlalu terang.

Dan para pengunjung ribut membicarakan negara

yang sedang tidur.

 

Panggung dan alat-alat musik di panggung kafe istirahat

setengah jam. Pukul 2 tiba dan seorang perempuan

menyanyikan lagu favoritmu. Aku menikmati tiga

hal dari lagu itu. Gempa waktu, rasa sakit, dan

sesuatu yang belum kutahu namanya.

 

Aku pulang dan jalan beraroma kampung

halaman terbakar. Aku berhenti setiap ada pohon

mengucapkan terima kasih sebelum tiba pada

jam-jam tidak bisa tidur di kamar.

 

Lagu itu belum berhenti. Rasa sakit tumbuh seperti

kalimat-kalimat indah di buku-buku puisi Sylvi

Plath. Aku mencintaimu dan mencitai

kehilanganku atasmu.

 

Di kafe itu, orang-orang berbahagia demi mengibur

kesedihan mereka. aku berbahagia karena selalu

bisa sedih pernah memiliki.

 

 

 

M Aan Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa, Makassar. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Aku Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita (2012).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 15 Juni 2014

Written by puisi kompas

Juni 21, 2014 at 3:00 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.630 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: